Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf atau biasa dipanggil Gus Yahya, menanggapi isu pemakzulan dirinya dengan sikap bijaksana. Meski informasi tentang pemakzulan tersebut telah beredar luas, Gus Yahya memilih untuk tidak berprasangka buruk terhadap pihak manapun.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa isu pemakzulan ini tidak hanya sekadar rumor, tetapi telah menjadi topik hangat di kalangan masyarakat. Gus Yahya menyadari bahwa berbagai tuduhan miring telah diarahkan kepadanya dan ini tidak mudah dihadapi.
“Saya tidak mau berprasangka ya,” ucapnya, usai menghadiri Rapat Koordinasi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama se-Indonesia. Sikap hati-hati ini mencerminkan keinginannya untuk menjaga keharmonisan dalam organisasi dan menyikapi situasi dengan matang.
Isu Pemakzulan dan Permasalahan Internal Organisasi
Penting untuk dicatat bahwa sebelum isu pemakzulan dirinya mencuat, Gus Yahya juga telah menjadi sasaran berbagai tuduhan negatif. Menurutnya, rumor yang beredar sangat tidak konstruktif dan seringkali berlebihan.
Berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya, termasuk pengambilan dana yang tidak jelas, telah menciptakan suasana yang tidak nyaman. “Saya sudah mendengar berbagai tuduhan, seperti saya makan duit Rp900 miliar,” cetusnya.
Tuduhan semacam ini telah berpotensi merusak citra organisasi dan menciptakan perpecahan di dalam internal Nahdlatul Ulama. Kendati demikian, ia berkeras untuk tidak melanjutkan pertikaian ini dengan melakukan penuduhan balik.
Bersikap Bijaksana dalam Menghadapi Rumor
Sikap Gus Yahya yang tidak gegabah dalam menanggapi rumor ini menunjukkan kedewasaan dalam kepemimpinannya. Ia merasa tidak ada gunanya bertindak berdasarkan informasi yang tidak jelas, dan lebih memilih untuk menyelidiki lebih dalam sebelum mengambil tindakan.
“Tapi saya tidak mau bertindak atas dasar rumor atau prasangka,” ujarnya tegas. Gus Yahya berkomitmen untuk tetap berdasarkan pada fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hasil dari pendekatan ini adalah membawa suasana yang lebih tenang di tengah hiruk-pikuk informasi yang tak terverifikasi. Dengan demikian, ia berharap semua pihak dapat mendengarkan dan memahami situasi dengan lebih baik.
Dokumen Risalah Rapat dan Validitas Informasi
Isu pemakzulan Gus Yahya mengemuka setelah adanya dokumen Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang diadakan pada tanggal 20 November 2025. Dalam rapat tersebut, terungkap bahwa 37 dari 53 Pengurus Harian Syuriyah hadir.
Dokumen tersebut ditandatangani oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, namun keabsahan dokumen itu belum terkonfirmasi. Ketiadaan kepastian ini hanya menambah ketidakpastian yang melingkupi situasi yang ada.
Hal ini pun menimbulkan pertanyaan di kalangan anggota dan masyarakat luas mengenai legitimasi isu pemakzulan tersebut. Gus Yahya, dalam hal ini, menekankan pentingnya untuk memeriksa fakta sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
